Perusahaan Minyak Dunia

Perusahaan kilang minyak global terombang-ambing sebab keinginan pada ’emas hitam’ itu lesu semasa beberapa bulan, sesaat stol melimpah.
Pabrik penyulingan memotong produksi sekitar 35% pada musim semi sebab lockdown yang disebabkan COVID-19 merusak keperluan perjalanan.
Tetapi sebab lockdown berkurang, penyuling tingkatkan output dengan cara perlahan-lahan sampai akhir Agustus. Tapi di customer bahan bakar paling atas Amerika Serikat serta dalam tempat lain, kilang sudah turunkan biaya semasa beberapa minggu paling akhir untuk respon atas kenaikan stol, minimnya keinginan yang berkepanjangan, serta untuk respon pada musibah alam.
Pukulan pada kemampuan paling mencolok di China. Customer bahan bakar paling besar ke-2 pimpin dunia dalam pemulihan keinginan minyak sesudah melulutkan epidemi virus Corona. Tapi pabrik penyulingannya mengekspor bahan bakar, serta pengiriman sedang lesu sebab COVID-19 memengaruhi keinginan bahan bakar di beberapa negara Asia yang lain.
Kilang China diprediksikan akan memotong produksi di bulan September, diperintah oleh PetroChina 601857.
“Efek COVID-19… memberi desakan berlebihan pada usaha penyulingan yang tidak pernah kami alami awalnya serta tidak berkepanjangan dalam periode panjang,” kata Scott Wyatt, kepala eksekutif penyuplai bahan bakar Australia Viva Energy Grup Ltd VEA.AX awal bulan ini.
Menurut Administrasi Info Energi AS, keinginan bahan bakar AS sudah turun 13% tahun ke tahun.
Pabrik penyulingan AS masih menghasilkan bahan bakar 20% semakin sedikit dibanding sebelum epidemi. Kilang China, India, Jepang serta Korea Selatan memotong tingkat pendayagunaannya mulai Juli serta Agustus.
Pemerintah Australia sudah menyarankan pengeluaran miliaran dolar untuk jaga empat kilang yang masih ada masih membuka.

By Yesenia

Leave a Reply

Your email address will not be published.